终帝稃
2019-05-21 11:01:02
2017年6月28日下午2:39发布
2017年6月28日下午2:40更新

Ilustrasi foto oleh Wira Suryantala / ANTARA

Ilustrasi foto oleh Wira Suryantala / ANTARA

SEMARANG,印度尼西亚 - Sejumlah pilot maskapai penerbangan dalam maupun luar negeri mengeluhkan adanya tradisi pelepasan balon udara karena dianggap mengganggu jarak pandang di jalur penerbangan。

Keluhan tersebut saat ini telah disampaikan kepada pihak AirNav Indonesia Cabang Semarang tepat sehari saat ditemukan gangguan balon udara tersebut。

“Kami mendapati adanya tradisi pelepasan balon udara untuk menyambut Syawalan di Pekalongan dan Wonosobo ternyata sangat membahayakan aktivitas penerbangan.Sebab,banyak sekali warga yang menerbangkan balon dengan ketinggian yang mengganggu jarak pandang para pilot,”kata总经理AirNav Indonesia Cabang Semarang Kristanto kepada Rappler, Rabu 28 Juni。

Atas komplain tersebut,ia bahkan mengaku langsung meninjau beberapa desa di Wonosobo dan Pekalongan untuk mengecek langsung seperti apa tradisi pelepasan balon udara tersebut。

Menurutnya,di dua kabupaten itu ada banyak titik temuan balon dengan ketinggian bervariasi。 “Banyak sekali balonnya.Rata-rata memakai tenaga氮.Yang dirugikan tentunya pada penerbang yang kerap melintas dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menuju Yogyakarta maupun dari dan ke Semarang,”cetusnya。

Pada hari ini,kata Kristanto,para pilot Citilink melihat ada empat balon yang terbang dengan jarak 53米dari landasan pacu Bandara Ahmad Yani。 Kebetulan saat itu pilot terse but hendak mendaratkan pesawatnya ke Ibukota Jawa Tengah。

Ia menyebut hal ini sangat berbahaya bagi para penerbang mengingat jarak pandang mereka jadi tidak stabil dan mengganggu konsentrasi awak maskapai。 Sebab balon-balon yang ditemukan kebanyakan berukuran besar dengan lebar sampai 15米。 Jarak ketinggian balon mencapai 15 ribu适合dari muka laut。

“Coba bayangkan kalau itu sampai masuk ke lubang mesin pesawat jelas sangat mengancam keselamatan penumpangnya.Ini merugikan penerbangan,apalagi balonnya tidak hanya dihembuskan oleh angin tapi ada bahan bakar nitrogen.Yang lebih bahaya lagi jika dimasuki petasan,”katanya。

Sejauh ini komplain telah diajukan oleh dua pilot maskapai lokal,10 maskapai asal Yogyakarta dan komplain serupa juga datang dari maskapai Malaysia Airlance rute Kuala Lumpur-Sydney PP。 Pihak Malaysia Airlance melihat balon di atas ketinggian 50 ribu fit dari muka laut。

Ia mengimbau kepada masyarakat setempat agar tak lagi menerbangkan balon dengan ketinggian tertentu。 Selain berbahaya,ia menegaskan pelepasan balon udara dilarang keras sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan。 “杨melanggar terancam kurungan 2 tahun dan denda Rp 500 Juta,”terangnya。

Pihaknya kini sudah menerbitkan notam kepada semua maskapai terhitung sejak 1 Juli-7 Juli agar mewaspadai gangguan tersebut。 Dalam notam disebutkan bahwa tiap pilot diminta mencermati titik ketinggian dan jarak balon dengan hidung pesawat saat di udara。

“Notam akan diperpanjang kalau diperlukan。Sehingga setiap penerbang bisa menghindari jalur-jalur yang terdapat balon udara,”jelasnya。

Ganggu jaringan listrik

Tak hanya berpotensi mengganggu jalur penerbangan,balon udara yang diterbangkan warga ternyata juga mengakibatkan aliran listrik di Wonosobo terganggu。 PLN menyatakan ada sebuah balon tersangkut di jaringan transmisi Wonosobo-Secang。

PLN terpaksa memadamkan jaringan transmisi untuk menormalisasi gangguan tersebut。 “Penurunan balon butuh waktu tiga sampai lima jam.Setelah kejadian,regu kami menuju lokasi.Mereka cepat mengatasi gangguan ini,”kata General Manajer Transmisi Jawa Bagian Tengah PLN,Edwin Nugraha Putra。

Menurut I Made Suprateka,Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN,guna mengatasi gangguan balon,pihaknya menerjunkan dua tim terdiri dari tujuh personel。 Satu tim menurunkan balon di atas sutet Wonosobo-Merica,sementara tim lainnya mengambil balon dari sutet Wonosobo-Temanggung dan sutet Wonosobo-Secang。

Dua orang personel naik tower transmisi untuk menurunkan balon udara。 Penormalan dilakukan sangat hati-hati karena medan yang berat。 Dengan gangguan itu,jaringan listrik sebesar 30 MW padam。

Ia berharap kejadian ini tak terulang kembali,mengingat Pemda setempat juga sudah mengeluarkan surat larangan untuk melepaskan balon udara。

Sementara itu,Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jateng Komisaris Besar Djarod Padakova menyatakan akan memonitor kegiatan warganya yang masih menerbangkan balon udara。 “Jika masih ditemukan kegiatan serupa maka akan kami tidak tegas,”kata Djarod。

-Rappler.com