亢芹
2019-05-21 06:01:01
2017年6月26日下午6:26发布
2017年6月26日下午6:26更新

LOKASI PENGUNGSI。 Sejumlah umat穆斯林menunuju tenda usai menunaikan salat Ied untuk kembali ke lokasi pengungsian korban banjir,di Hutadaa,Kabupaten Gorontalo,Gorontalo,Senin,26 Juni。 Sebanyak 34 kepala keluarga(KK)merayakan hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di lokasi pengungsian karena rumah mereka masih terendam banjir hingga 1米。 Foto oleh Adiwinata Solihin / ANTARA

LOKASI PENGUNGSI。 Sejumlah umat穆斯林menunuju tenda usai menunaikan salat Ied untuk kembali ke lokasi pengungsian korban banjir,di Hutadaa,Kabupaten Gorontalo,Gorontalo,Senin,26 Juni。 Sebanyak 34 kepala keluarga(KK)merayakan hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di lokasi pengungsian karena rumah mereka masih terendam banjir hingga 1米。 Foto oleh Adiwinata Solihin / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Beduk ditabuh,takbir dikumandangkan,langit malam dihiasi warna-warni kembang api。 Umat muslim bersuka cita menyambut hari raya setelah berpuasa selama satu bulan。

Berbagai tradisi dilakukan dan telah dipersiapkan,mulai dari mudik,baju baru kembar satu keluarga besar hingga kudapan berat maupun ringan。 Tetapi,itu tidak berlaku bagi Ali,seorang pengungsi asal阿富汗。

“Iya,memang Idul Fitri sudah tiba。 Tapi bagaimana kami mau merayakan,uang saja tidak punya,“ujar Ali yang ditemui pada akhir pekan kemarin。

Dia mengaku tidak bisa merayakan hari raya dengan suka cita。 Sebab,kondisi mereka saat ini serba kekurangan secara finansial。

“Kami bisa makan saja sudah bersyukur sekali,”katanya lagi。

Dia bersama tiga orang adik perempuan dan ibunya baru saja sampai di Indonesia dua minggu lalu dari rumahnya di Afganistan untuk mencari suaka dari lembaga dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurusi pengungsi(UNHCR)。 Tak ada persiapan spesial yang dilakukan oleh Ali dan keluarga pada malam 1 Syawal 1438H atau Sabtu malam,24 Juni。

Demikian pula dengan beberapa orang berwajah Timur Tengah yang ditemui di jalan Kebon Sirih Barat tepatnya di sebelah Menara Ravindo。 Di jalan masuk Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih yang terkenal itu mereka dududk“mengemper”di sisi kanan dan kiri jalan。 Di situ pula tempat mereka merebahkan diri saat kantuk datang。

“Bayangkan saja kalau hujan turun.Ini sulit sekali,terutama untuk anak kecil,lihat saja,”katanya sambil menunjuk ke salah seorang anak kecil yang berada di dekat kami berbicara。

Dia juga menunjuk tempat dia bersama keluarganya tidur,sambil berkata,“Adik perempuan saya paling kecil berusia 5 tahun。”

Sebagai anak laki-laki satu-satunya,Ali mau tidak mau harus menjadi pelindung keluarga。

“Kamu tahu kan kondisi di sana(阿富汗)?Bom di mana-mana,penculikan,bahkan saya tidak tahu apakah Ayah saya masih hidup,”katanya miris。

Dia mengaku datang ke印度尼西亚usai mendengar banyak mengenai negara ini。 Dia juga mendengar mengenai keberadaan UNHCR dan dapat membantu mereka。 Sayang,bantuan itu tidak seperti yang mereka harapkan。

Walau sudah mengantongi kartu pengungsi,tetapi UNHCR tidak bisa begitu saja memilihkan negara ketiga sebagai tempat baru untuk tinggal。

Perbincangan kami terputus saat beberapa orang melintas untuk mempersiapkan makan malam。 Ada yang membawa penanak nasi,ada pula yang membawa peralatan makan。

“Kami makan dari pemberian orang di sekitar,kalau tidak ada yang memberi ya kami tidak makan,”tutur dia。

Perempuan paruh baya,yang belakangan diketahui Ibu Ali,menghampiri Ali dan berbincang dalam bahasa Persia。 Ali kemudian mengajak untuk duduk di tempat dia dan keluarganya beristirahat。

Di sana Ibu Ali telah mempersiapkan makanan; satu mangkuk berisi nasi,dan satu mangkuk lagi berisi kari。 Ibu Ali kemudian mengeluarkan roti berukuran jumbo dan lebar mirip roti Cane dari kantong plastik。

Dengan senyum yang ramah,Ibu Ali mempersilakan kami untuk makan。 Ali yang pandai berbahasa Inggris juga mengajak untuk makan。 - dengan laporan ANTARA / Rappler.com