寇弦笔
2019-05-21 09:01:03
2017年6月25日上午10:31发布
更新时间:2017年6月25日上午10:31

PAWAI TABKIR。 Raja Ida Cokorda Pemecutan XI(tengah menggunakan peci hitam)dan tokoh Kampung Islam Kepaon Haji Ishak Ibrahim(kiri menggunakan peci putih)saat menjelang pelepasan pawai takbir,Sabtu,24 Juni。 Foto oleh Bram Setiawan / Rappler

PAWAI TABKIR。 Raja Ida Cokorda Pemecutan XI(tengah menggunakan peci hitam)dan tokoh Kampung Islam Kepaon Haji Ishak Ibrahim(kiri menggunakan peci putih)saat menjelang pelepasan pawai takbir,Sabtu,24 Juni。 Foto oleh Bram Setiawan / Rappler

DENPASAR,印度尼西亚 - Toleransi sesungguhnya telah menjadi bagian dari keseharian warga印度尼西亚。 Tengok pawai takbir yang diselenggarakan di Bali pada Sabtu malam,24 Juni。

Warga Bali yang beragama Islam dan Hindu membaur ikut serta dalam pawai menyambut Idul Fitri。 Peristiwa itu terjadi di Kampung Islam Kepaon。 Warga Bali yang beragama Hindu ikut menyumbangkan kesenian baleganjur untuk memeriahkan pawai takbir。

Kepala Dusun Kampung Islam Kepaon Muhammad Asmara mengatakan kehidupan saling mengisi antar umat beragama sudah berlangsung sejak zaman dahulu。 Menurut dia kehadiran umat Hindu saat pawai takbir sebagai bentuk solidaritas dalam pluralisme。

“Ini warisan nenek moyang kami,”ujar Asmara yang ditemui pada Sabtu malam,24 Juni。

Puluhan remaja dari Banjar Dukuh Tangkas,Desa Pemogan memainkan baleganjur mengiringi gema takbir di antara anak-anak yang membawa obor。 Kepala Dusun Dukuh Tangkas I Wayan Wardana menjelaskan tujuan menampilkan baleganjur untuk melanjutkan warisan para leluhur mereka。

“Saya nyaman sekali ikut memeriahkan kegiatan(takbiran)ini.Walaupun saya Hindu,tapi saya menikmati kebersamaan dan keakraban ini,”ujar Wardana。

Kampung Islam Kepaon di Kecamatan Denpasar Selatan berstatus banjar yang berada di kawasan Desa Pemogan。 Setiap banjar yang mayoritas penduduknya beragama Hindu,bergantian setiap tahun saat malam takbiran menampilkan kesenian baleganjur。 Tahun ini Banjar Dukuh Tangkas yang berparitispasi untuk malam takbiran。

Wardana menjelaskan misal ada kegiatan agama Hindu,warga Kampung Islam Kepaon ikut menampilkan kesenian tari Rodat khas Kepaon。

“Kami saling mengisi,”katanya。

Menjelang pawai takbir,Raja Puri Pemecutan Anak Agung Ngurah Manik Parasara,杨bergelar Ida Cokorda Pemecutan XI menemui warga Kepaon。 Ia hadir untuk bersilaturahmi sekaligus melepas pawai takbir warga mengelilingi Kampung Islam Kepaon。 Ida Cokorda Pemecutan XI memakai peci,kemeja,dan sarung sehingga terlihat membaur dengan warga muslim。

MEMBAUR。 Pemuda Hindu dan Islam membaur bersama saat pawai takbir di Kampung Islam Kepaon,Sabtu,24 Juni。 Foto oleh Bram Setiawan / Rappler

MEMBAUR。 Pemuda Hindu dan Islam membaur bersama saat pawai takbir di Kampung Islam Kepaon,Sabtu,24 Juni。 Foto oleh Bram Setiawan / Rappler

“Kita hadir umat Islam dan Hindu di sini diberikan berkat dan restu rahmat Tuhan.Semangat harus bertambah,”kata Ida Cokorda saat memberikan sambutan untuk warga Kampung Islam Kepaon。

Puri Pemecutan adalah pemegang kekuasaan Kerajaan Badung。 Hubungan persaudaraan antara印度教丹伊斯兰教itu telah berjalan selama ratusan tahun。 Persaudaraan tersebut bermula saat leluhur Puri Pemecutan,Gusti Ayu Made Rai,dinikahi oleh Pangeran Cakraningrat IV dari Madura,yang beragama Islam。

Setelah menikah,Gusti Ayu Made Rai menjadi mualaf,kemudian dikenal dengan nama Raden Ayu Siti Khodijah。 Ratusan tahun yang lalu para leluhur Kampung Islam Kepaon adalah prajurit perang Kerajaan Badung。

“Mari mengayomi semuanya Hindu dan Islam yang sudah ratusan tahun akrab mari kita perjuangkan,”ujar Ida Cokorda。

Tokoh masyarakat Kampung Islam Kepaon Haji Ishak Ibrahim mengatakan bahwa Idul Fitri menjadi momentum untuk semakin menjalin hubungan persaudaraan antara Islam dan Hindu。

“Mudah-mudahan ketenangan dan kenyamanan selalu di antara kita.Kami(Islam dan Hindu)tetap bersaudara,hubungan kami setiap saat tetap kami laksanakan yang diwarisi dari dulu seperti itu,”kata dia。 - Rappler.com