诸葛透碗
2019-05-21 07:01:08
2017年6月16日下午7:05发布
2017年6月16日下午7:05更新

PEMERIKSAAN。 Pemilik MNC Group,Hary Tanoesoedibjo menjawab pertanyaan wartawan seusai menjalani pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Siber,Bareskrim Polri,Jakarta,Senin,12 Juni。 Foto oleh Rivan Awal Lingga / ANTARA

PEMERIKSAAN。 Pemilik MNC Group,Hary Tanoesoedibjo menjawab pertanyaan wartawan seusai menjalani pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Siber,Bareskrim Polri,Jakarta,Senin,12 Juni。 Foto oleh Rivan Awal Lingga / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Bukan kali pertama jika dua institusi penegak hukum berbeda pendapat mengenai satu kasus。 Kali ini menyangkut kasus bos media grup MNC Hary Tanoesoedibjo yang dikabarkan sudah ditetapkan menjadi tersangka。

Informasi soal status Hary yang telah menjadi tersangka disampaikan oleh Jaksa Agung Muhammad Prasetyo。

“Sekarang sudah(menjadi)tersangka,karena statusnya sudah ditingkatkan,”ujar Prasetyo ketika ditemui di Kejaksaan Agung pada Jumat,16 Juni。

Saat ini pihak kejaksaan masih terus menunggu perkembangan penyelidikan kasus tersebut dari Bareskrim Mabes Polri。 Prasetyo berharap kasus tersebut bisa secepatnya rampung untuk diteliti oleh kejaksaan。

“Tetap harus melalui penyelidikan dari Polri。 Nanti,diserahkan ke penuntut umum。 Nanti,di situ diteliti sudah lengkap atau tidak。 Memenuhi persyaratan atau tidak untuk disidang。 Itu kami tunggu,“tutur dia。

Namun,ketika dicek ke Mabes Polri,mereka justru mengatakan hal yang sebaliknya。 Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Mabes Polri Brigjen Fadil Imran membantah telah menetapkan Ketua Partai Perindo itu sebagai tersangka。

“Belum,(HT)masih saksi,”kata Fadil ketika dikonfirmasi melalui telepon。

Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan(SPDP)双关语belik dikeluarkan oleh penyidik。

Hary dilaporkan ke polisi karena dianggap telah mengancam seorang jaksa bernama Yulianto yang tengah menyelidiki kasus Mobile 8. Ancaman disampaikan Hary melalui pesan singkat。

Yulianto mengaku mendapat pesan singkat dari orang yang tidak dikenal pada 5 Januari 2016 sekitar pukul 16:30 WIB。

“Mas Yulianto,kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar。Siapa yang profesional dan siapa yang preman.Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng.Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena- mena,yang transakional yang suka滥用权力.Catat kata-kata saya di sini,saya pasti jadi pimpinan negeri ini.Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan,“ demikian isi pesan pendek itu。

Semula,dia mengabaikan pesan tersebut。 Tetapi,pada 7 Januari dan 9 Januari 2016,pesan bernada serupa kembali diterimanya。 Kali ini melalui aplikasi pesan pendek WhatsApp。 Tetapi,提名人pengirim sama。

Isi pesannya kurang lebih sama seperti pesan yang dikirim pada 5 Januari lalu,hanya ditambahkan, “Kasihan rakyat yang miskin makin banyak,sementara negara lain berkembang dan semakin maju。”

Setelah memeriksa Yulianto yakin jika pesan singkat tersebut dikirim oleh Hary Tanoesudibjo。 Hary mengaku jika pesan itu memang dikirim melalui ponselnya,tetapi dia membantah jika dianggap mengancam Yulianto。

“SMS ini saya buat sedemikian rupa untuk menegaskan saya ke politik untuk membuat Indonesia lebih baik,tidak ada maksud mengancam,”kata Hary membela diri。 - Rappler.com