潘辋气
2019-05-21 09:01:10
2017年6月14日下午12:19发布
2017年6月14日下午12:19更新

Pengungsi Syiah Sampang ditampung di Rumah Susun Pasar Induk Puspa Agro,Sidoarjo,Jawa Timur,Sabtu(10/6)。 Foto oleh Amir Tejo / Rappler

Pengungsi Syiah Sampang ditampung di Rumah Susun Pasar Induk Puspa Agro,Sidoarjo,Jawa Timur,Sabtu(10/6)。 Foto oleh Amir Tejo / Rappler

SIDOARJO,印度尼西亚 - Tak ada hiruk-pikuk yang mencolok saat berkunjung ke penampungan pengungsi Syiah Sampang di rumah susun Pasar Induk Puspa Agro,Sidoarjo,Jawa Timur,Sabtu 10 Juni 2017。

Hanya tampak belasan ibu-ibu dan remaja putri berjilbab di lantai empat。 Mereka duduk lantai tanpa alas di selasar tengah。 Seperti umat Islam lainya dalam menyambut Ramadan,mereka pun bertadarus Al-Quran。

Berjarak dua kamar dari selasar tengah tempat tadarus,adalah kamar Ustadz Tajul Muluk beserta keluarga。 Tajul adalah orang yang dijadikan pemimpin kelompok pengungsi Syiah Sampang。

“我是初学者。 Kalau Ramadan dulu di kampung,biasanya silahturahmi menjadi semakin intens dengan saling berkunjung membawa makanan。 Tapi karena sekarang sudah berdekatan,ya biasa saja,“kata Tajul memulai perbicangan。

Sudah hampir lima tahun pengungsi Syiah Sampang ini berada di penampungan rumah susun Pasar Induk Puspa Agro Sidoarjo。 Mereka diungsikan ke rumah susun ini pada 20 Juni 2013 karena terlibat konflik dengan warga desa di Sampang。

Selama hampir lima tahun itu,rumah susun seperti tak pernah direnovasi。 Sehingga kondisi rusun menjadi sangat memprihatinkan。 猫dinding mulai kusam dan mengelupas。 Beberapa bagian lain bahkan ditumbuhi lumut karena lembab terkena air dari talang yang bocor。 “Kami setiap minggu sudah bekerja bakti,membersihkan,”ujar Tajul。

Selain kondisi bangunan yang memprihatinkan,Tajul juga mengeluhkan soal pompa air yang selalu rewel。 Akibatnya,pengungsi kesulitan air。 Ia sebenarnya sudah melaporkan rusaknya pompa,kepada pengelola。 Namun tak ada tanggapan。

Pengungsi双关语akhirnya memperbaiki sendiri pompa yang rusak meski keluar biaya jutaan。 Kata Tajul,maksud hati para pengungsi ingin membuat sungkan pengelola karena kerusakan ditangani sendiri。 “Namun ternyata mereka malah keenakan,karena pompanya sudah dibetulkan pengungsi,”katanya。

Hidup dalam kondisi yang memprihatinkan itu tak melunturkan semangat para pengungsi untuk tetap bertahan,sampai mereka dipulangkan ke kampung halaman。 Tajul mengatakan mereka akan tetap menolak relokasi seperti yang sering ditawarkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur。

Alasannya,jika mereka menerima relokasi,maka akan menjadi preseden buruk bagi kelompok minoritas lain di Indonesia。 Jika kemudian terjadi konflik antara kelompok minoritas dengan kelompok lain,maka pemerintah akan dengan mudah mengusir kelompok minoritas dari kampung halamannya。

“kami tak mau penyelesaian instan yang seperti itu,karena efek ke belakangnya akan menjadi preseden buruk bagi kelompok-kelompok minoritas di Indonesia,”kata Tajul。

Alasan kedua,dengan relokasi belum tentu ada jaminan keamanan di tempat baru yang mereka tempati。 “Di kampung halaman sendiri saja kami saja tak aman,apalagi di tempat baru。 Mereka akan menganggap kami orang buangan,kami orang yang diusir,“kata Tajul。

Oleh karena itu,sampai kapan pun,mereka akan tetap bertahan sampai dipulangkan ke kampung halaman。 Pengungsi Syiah Sampang masih yakin jika pemerintah mampu menyelesaikan konflik yang mereka alami。 Karena konflik yang mereka alami sebenarnya tak sebesar konflik Aceh ataupun konflik Maluku yang bisa diselesaikan pemerintah。

Meski begitu,Tajul tak berharap banyak kepada Pemerintah Provinsi(Pemprov)Jawa Timur(Jatim)。 Pasalnya,selama hampir lima tahun mereka dalam penampungan,tak ada upaya signifikan dari Pemprov Jatim untuk menyelesaikan konflik ini。 Kata mereka,konflik ini harus ditangani oleh pemerintah pusat langsung。

“Upaya rekonsiliasi datangnya selalu dari kami。 Saya selalu minta dipertemukan dengan tokoh-tokoh lain untuk对话。 Tapi tak pernah dikabulkan Pemprov。 Kalau mereka mempunyai niat,tentunya saya akan dipertemukan untuk对话,“kata Tajul。

Meski para jemaah sudah satu kata minta kembali ke kampung halaman,namun dalam pengajian-pengajiannya internal mereka,terkadang ada pertanyaan dari jamaah yan menanyakan sampai kapan mereka harus bertahan di penampungan。

“Saya selalu sampaikan bahwa perjuangan memang kesabaran tidak semudah yang bayangkan。 Kalau mau cepat-cepat selesai,ya sudah menerima relokasi masalah menjadi selesai。 Tanpa memperdulikan efeknya ke belakang,“kata Tajul。

Kata dia,para jamaah pun memahami alasan yang disampaikan oleh Tajul tersebut。 Para jamaah percaya dengan apa yang disampaikannya。 Kepercayaan itu,kata dia bukan tumbuh secara instan,karena mereka sudah berinteraksi belasan tahun dengannya。

Berawal dari rebutan jemaah

Pemimpin Syiah Sampang,Tajul Muluk,saat menerima Rappler di Rumah Susun Pasar Induk Puspa Agro,Sidoarjo,Jawa Timur,Sabtu(10/6)。 Foto oleh Amir Tejo / Rappler

Pemimpin Syiah Sampang,Tajul Muluk,saat menerima Rappler di Rumah Susun Pasar Induk Puspa Agro,Sidoarjo,Jawa Timur,Sabtu(10/6)。 Foto oleh Amir Tejo / Rappler

Tajul adalah salah satu anak dari Kyai Makmun,tokoh masyarakat di Desa Karang Gayam,Sampang Madura。 Tajul pernah tinggal di Arab Saudi selama enam tahun。 Rencana awal ke Arab Saudi adalah untuk studi。 Namun karena situasi di Arab dianggap tak menyenangkan,dia akhirnya memutuskan bekerja saja。

Baru kemudian tahun 1999 dia akhirnya pulang ke kampung halamannya。 Awal kepulangannya,dia punya usaha toko yang menyediakan kebutuhan hidup untuk warga sekitar。 Tak pernah terbersit sedikit pun dalam pikirannya untuk mendirikan madrasah nonformal seperti yang dilakukan adiknya atau para ustadz lainnya。

Namun beberapa tetangga bersikeras untuk titip anaknya belajar mengaji kepadanya。 “Ustadz tolong anak saya ini diajari ngaji,”kata Tajul menirukan para tetangganya saat itu。 Tajul双关语kemudian menjawab,jika dia tak bisa,karena memiliki usaha toko。 Dia sudah tak mempunyai waktu lagi。

Dia juga menyarankan kepada para tetangganya itu,untuk menitipkan anaknya belajar ngaji di madrasah yang memang sudah berdiri“Tapi mereka mereka tetap maksa,menitipkan anaknya ke saya。 Apa boleh buat,akhirnya saya ajari,“kata dia。

Akhirnya,anak-anak yang mengaji di Tajul bertambah banyak。 Para orangtua santri menyarankan agar Tajul untuk membuat madrasah。 Tajul pun berujar,dia tak memiliki dana yang cukup karena membuat madrasah,tentu membutuhkan biaya。 “Ya sudah,nanti saya carikan kayu,untuk lantainya pakai semen biasa saja,”kata Tajul menirukan ucapan para uang tua santri。

Keengganan Tajul mendirikan madrasah ini,kata dia karena ingat pesan dari buyutnya。 Buyutnya pernah mengingatkan,setelah keluar dari pondok pesantren nanti,jangan membuat kotak rumah tawon sebelum ada tawonnya。 Buatlah kotak rumah tawon kalau memang sudah ada tawonnya。

Artinya,kata Tajul menerangkan,setelah keluar dari pondok pesantren nanti,jangan membuat madrasah untuk kemudian mencari-cari santri。 Itu sama saja berharap,para santri itu dijadikan tawon untuk dikeluarkan madunya。 Jika itu yang terjadi,maka sama saja saat mendirikan madrasah sudah tidak ikhlas karena Alloh,tapi karena ada kepentingan bisnisnya。

Selain mengajar ngaji untuk anak-anak,Tajul juga berinisiatif untuk memberdayakan warga sekitar。 Saat dia datang,dia merasa prihatin dengan kondisi sosial ekonomi warganya yang miskin dan tak berpendidikan。 Anak-anak banyak yang putus sekolah。

Ada beberapa usaha Tajul untuk memberdayakan warganya。 Misalnya saja Tajul mendorong kepada orangtua agar anaknya harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya。 Kalau pun tak mampu,dia akan mencarikan donatur untuk biaya sekolah。 Atau mencarikan sekolah yang memang menyediakan pendidikan gratis untuk anak kurang mampu。

Kedua,Tajul juga menghapuskan sistem upah dalam berladang。 Dia mengenalkan sistem gotong royong saat musim tanam。 Warga tak perlu mengeluarkan uang untuk upah buruh tani。 Tapi konsekuensinya dia juga harus ikut membantu warga lainnya。

Ketiga,Tajul juga mengintensifkan ronda malam di kampungnya。 Karena sebelum dia datang,pencurian hewan ternak sangat marak。 Warga双关语merasa tak berdaya dengan para pencuri。 Kata dia,preman di sana,beda dengan yang di Jawa。

Preman di kampungnya,nomor duanya kyai,ditakuti karena seperti punya power “Itu kami hadapi kenapa mereka berani melepas hak kami,sedangkan kami yang memiliki,malah takut mempertahankan,”ujar Tajul。

Keempat,Tajul juga menggali potensi-potensi yang dimiliki warga。 Misalnya ada warga yang mempunyai kemampuan sebagai menjadi tukang kayu dan bangunan,didorong untuk mandiri。 Kalau mereka tak punya modal peralatan,mereka akan gotong royong membeli dan digunakan bersama。 “Kalau memang sudah mampu,silahkan berdiri sendiri-sendiri,”ujar Tajul。

Dan terakhir yang dianggap Tajul sensitif adalah mengajak warga untuk hidup hemat。 Salah satunya adalah dengan cara menyatukan perayaan Maulid Nabi di masjid。 Kata Tajul,sudah menjadi tradisi di kampungnya jika peringatan Maulid Nabi selalu diadakan dari satu rumah penduduk ke rumah penduduk lainnya。 Perayaan双关语dilakukan secara besar-besaran dengan mengundang warga dan para ustadz dan kyai beserta keluarga。

“Ustadz,kyai dan keluarganya yang datang,tentunya tuan rumah harus memberikan amplop。 Ini tentu makan biaya。 Makanya saya ubah biar tidak membebani masyarakat。 Wong yang mau dimakan saja susah,kok malah adakan pesta,“ujar dia。

Dalam perhitungan Tajul,sekali adakan peringatan Maulid Nabi,warga setidaknya memakan biaya antara Rp 3-5 juta saat itu。 Jumlah yang dianggap besar oleh warga tidak mampu。 Akhirnya,kata Tajul,setiap tahun mereka punya utang,harus gadaikan tanah,bahkan terkadang sampai lepas karena tak bisa membayar。

Tradisi mengadakan peringatan Maulid Nabi dari rumah ke rumah itu,sudah ada sejak Tajul belum lahir。 Meski tak ada sanksi sosial,namun bagi yang tidak mengadakan perayaan Maulid Nabi akan menjadi omongan warga。

“Orang Madura itu kan gengsinya besar。 Kalau sampai jadi omongan gitu,malu。 Akhirnya memaksakan diri。 Saya lihat itu cara-cara yang tak normal karena agama tak mempersulit penganutnya。 Nabi pun berpesan,gampangkan mereka jangan dipersulit。 Berilah mereka berita gembira,bukan pesimis,“ujarnya。

Tajul kemudian berinisiatif adakan peringatan bersama maulid Nabi。 Peringatan bersama Maulid Nabi di masjid pertama kali diadakan tahun 2007. Saat itu tak banyak warga yang mau menyumbang,karena masih berat dengan tradisi。 Tajul tak mempermasalahkan。 Tajul pun tak mematok besaran sumbangan yang harus disetorkan warga ke masjid。 Semampunya saja。

Tahun pertama adakan Maulid Nabi bersama di masjid,panitia mempunyai kelebihan uang sekitar Rp 5 juta。 Sisa uang itu kemudian digunakan untuk membangun kamar mandi masjid kampung。 Karena saat itu,masjid belum ada kamar mandinya。

“Karena melihat ada hasilnya,itu di tahun-tahun berikutnya jadi semakin banyak warga yang ikut adakan peringatan bersama Maulid Nabi di masjid,”kata dia。

Rupa-rupanya,gebrakan Tajul adakan peringatan bersama Maulid Nabi di masjid,membuat banyak kyai yang marah。 Pasalnya,Tajul mulai mendapat simpati dari warga。 Selain itu,awal-awal kedatangan dari dari Arab,dia sering diundang ke majelis-majelis lain untuk mengisi pengajian。 Namun lama kelamaan,justru banyak jamaah yang condong kepadanya。

“Sejak saat itu,saya mulai disikat。 Awalnya saya diisukan sebagai orang Muhammadiyah karena tak mau adakan Maulid。 Isu Muhammadiyah tak mempan,saya kemudian disikat dengan syiah,“ujar dia。

Semakin banyaknya jamaah yang condong ke Tajul tentu dianggap merugikan kyai lain。 Karena dengan begitu,pundi-pundi ekonomi para kyai menjadi berkurang。 Sudah menjadi rahasia umum jika seorang kyai sudah punya jamaah yang loyal,maka setiap kali bertamu ke rumah kyai mereka akan。 Apalagi setelah panen。

Kata Tajul,kebanyakan para kyai di kampungnya,kehidupannya memang bersandar kepada para santri dan jamaahnya。 Karena di sana,kyai itu kebanyakan tak bekerja。 Sedangkan Tajul mempunyai usaha,buka toko。

“Ya begitulah。 Karena dakwah ini sebenarnya cuma embel-embel saja,melainkan sudah menjadi lahan bisnis。 Kalau benar-benar karena Alloh,sebenarnya tak perlu rebutan jamaah,“ujar dia。

Pun demikian juga dengan tudingan paham syiah sesat。 Tajul menganggap itu hanya kedok saja。 Karena menurut dia,sudah menjadi hal yang biasa terjadi perbedaan paham di kalangan ulama。 Dia pun sudah berulangkali menawarkan untuk对话琼脂masalahnya menjadi jelas。 Tapi对话itu tak pernah terjadi。

Kalau pun tak ada对话menemui jalan buntu,kata Tajul,Islam memberikan solusi lain tanpa harus ramai-ramai dan gontok-gontokan。 “Al-Quran mengajari kalau misalnya dua kelompok ini mentok,adakan mubahalah。 Dan saya siap。 Ini demi keselamatan umat。 Saya tak mau umat yang menjadi korban,“katanya。

-Rappler.com