段干搜
2019-05-21 06:01:02
2017年6月9日下午12:12发布
更新时间:2017年6月9日下午12点12分

DILEPASLIARKAN。 Romeo,orang utan akhirnya masuk ke proses pralepas-liar usai sebelumnya berada dalam pengawasan intensif selama 24 tahun lebih akibat menderita penyakit Hepatitis B. Foto oleh Yayasan BOS

DILEPASLIARKAN。 Romeo,orang utan akhirnya masuk ke proses pralepas-liar usai sebelumnya berada dalam pengawasan intensif selama 24 tahun lebih akibat menderita penyakit Hepatitis B. Foto oleh Yayasan BOS

SAMARINDA,印度尼西亚 - Hari Lingkungan Hidup tahun ini menjadi momen penting bagi Romeo,orangutan penderita hepatitis B yang sebelumnya dikarantina oleh Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo(Yayasan BOS)。 Romeo akhirnya mendapat kesempatan pra-pelepasliaran di sebuah pulau yang terletak di kawasan Samboja,Kalimantan Timur。

Sebelumnya Romeo harus mendapat pengawasan ekstra karena hewan mamalia itu diketahui mengidap乙型肝炎usai dipulangkan dari台湾24 tahun silam。 Akibatnya,Romeo harus menjalani perawatan ekstra sebelum akhirnya dibebaskan pada 5 Juni。 Itu pun setelah dipastikan bahwa Romeo tidak akan membahayakan bagi populasinya di alam bebas。

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam(BKSDA)Kalimantan Timur Sunandar Trigunajasa mengatakan pihaknya sangat serius terhadap upaya pengembalian orangutan ke habitat aslinya。 Sebab,pada dasarnya sejak awal orang utan ditakdirkan untuk hidup bebas di dalam。

“Namun mengingat状态konservasi mereka yang saat ini dianggap'sangat terancam punah'atau'极度濒临灭绝',kita semua,termasuk saya dan jajaran Balai KSDA Kalimantan Timur harus meningkatkan upaya pelestarian orangutan dan habitatnya。 Hari ini kita pindahkan satu jantan dan sebelumnya,dua betina,“ujar Sunandar pada Rabu,7 Juni kemarin。

BKSDA Kaltim tak bekerja sendiri dalam menyelamatkan hewan khas Kalimantan ini melainkan juga mendapat dukungan penuh dari oranisasi luar seperti organisasi mitra seperti BOS Swiss,BOS Jerman,BOS Australia,dan The Great Projects。 Hasilnya cukup memuaskan。

Pada学期awal tahun 2017 sebanyak 13 ekor orang utan sudah berhasil dikembalikan ke habitat aslinya melalui proses yang panjang。 Tetapi,menurut首席执行官Yayasan BOS Jamartin Sihite upaya mereka terganjal faktor lingkungan,sebab saat ini di Kaltim sulit menemukan hutan dengan luasan dan kriteria yang sesuai dengan kebutuhan orang utan。

Akibatnya,banyak orang utan yang terpaksa tertahan di kandang karantina。

“节目pelepasliaran kami sempat terhenti selama 10 tahun akibat tidak tersedianya hutan untuk menampung orangutan dari pusat rehabilitasi.Ini menyebabkan menumpuknya ratusan orang utan yang senasib dengan Romeo,menanti kebebasan,”kata Jamartin pada Jumat,9 Juni。

Saat ini,hanya Hutan Kehje Sewen yang layak sebagai satu-satunya tempat untuk melepasliarkan orang utan。 Sayang,hutan ini tak lagi mampu untuk menampung lebih banyak orang utan。 Padahal,ada sekitar 100 orang utan lainnya yang direncanakan untuk dilepasliarkan。

“Kami butuh dukungan untuk mendapatkan hutan lain。 Kami juga masih butuh jasa lingkungan dari hutan seperti air bersih,udara,dan keseimbangan iklim,“kata dia。

Dengan adanya orang utan di hutan,maka mereka dapat meningkatkan dan menjaga kualitas hutan。 Jika ingin hutan tetap lestari,maka manusia juga harus menjaga keberadaan orang utan。

Sayangnya,justru banyak orang utan yang diburu dan sengaja dibunuh karena dianggap sebagai hama。 - Rappler.com