怀筮
2019-05-21 06:01:10
2017年6月7日下午4:52发布
更新时间:2017年6月7日下午4:52

Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian saat diskusi tentang persekusi di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia,Jakarta,Rabu(7/6)。 Foto oleh Ursula / Rappler

Alissa Wahid dari Jaringan Gusdurian saat diskusi tentang persekusi di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia,Jakarta,Rabu(7/6)。 Foto oleh Ursula / Rappler

雅加达,印度尼西亚 - Laporan tindak perburuan seseorang atau kelompok tertentu yang juga disebut persekusi terus meningkat。 Hingga hari ini,catatan Southeast Freedom of Expression and Network(SAFEnet)menunjukkan ada 87 laporan yang masuk。

“Rinciannya,12 kasus dianggap menghina agama Islam,30 dianggap menghina ulama,”kata Damar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia,Jakarta,pada Rabu,7 Juni 2017。

Sebanyak 28 dari 30 kasus penghinaan ulama dianggap menargetkan Pemimpin Front Pembela Islam(FPI)Rizieq Shihab。 Sementara 8 di antaranya dianggap menghina organisasi FPI sendiri。

Semenjak Koalisi Anti Persekusi membuka sambungan telepon khusus pelaporan persekusi,aduan yang masuk membanjir。 Damar mengatakan jumlahnya berlipat ganda dari yang telah mereka catat。

Selain 66 kasus yang sudah tercatat,SAFENet menemukan ada 12 aduan yang diduga kuat persekusi; 7 kasus awal persekusi; dan 2 kasus korban terimbas persekusi。 Pemetaannya tersebar ke hampir seluruh daerah di Indonesia。

“Ini sudah jadi lonceng tidak hanya untuk Jakarta tapi seluruh Indonesia,”kata Damar。

Bukan hal baru

Persekusi memang bukan hal baru di Indonesia。 Berbagai kasus sudah terjadi,mulai dari perburuan anggota Partai Komunis Indonesia(PKI)pada tahun 1965 dan jemaat Ahmadiyah serta Syiah di Sampang,Madura。

Perbedannya,kali ini perburuan tidak pada satu kelompok dengan identitas tertentu,namun menyasar individu。 “Memang ada kesamaan identitas atau ciri fisik,tapi tidak dipersekusi kelompok melainkan orang per orang,”kata perwakilan Jaringan Gusdurian Alissa Wahid。

Lebih lanjut,putri mendiang Abdurrahman Wahid ini juga mengatakan kalau alasan keagamaan adalah motivasi terbesar dalam melakukan persekusi di Indonesia。 Kebanyakan korban dituding telah menyinggung atau menghina tokoh agama atau keyakinan tertentu。

Dampaknya terhadap korban melingkupi fisik,psikologi,ekonomi,dan sosial。 Alissa mencontohkan PMA,remaja 15 tahun korban persekusi di Cipinang Muara,Jakarta Timur,yang akhirnya dievakuasi ke rumah aman。

Alissa yang sempat menemui PMA mengatakan anak itu sangat tertekan karena tak hanya dirinya yang menjadi korban,tapi juga keluarganya。

“Mereka tidak bisa tinggal di tempat semula dan masyarakat sekitar yang tidak bermasalah akhirnya menolak karena tidak ingin lingkungannya diganggu keramaian,”kata Alissa。

PMA,anak ke-2 dari 7 bersaudara,masih memiliki adik-adik yang bersekolah。 Kepada Alissa,ia mengatakan kalau saudara-saudaranya itu terpaksa menghentikan kegiatan belajar karena pengamanan。 Bahkan,mereka tidak bisa mengikuti ujian kenaikan kelas。

“Karena diurus negara jadi sekolahnya masih mau datang dan ujian dilangsungkan di rumah aman.Tapi setelah ini bagaimana?” 卡塔艾丽莎。

Negara memang harus menindak persekusi sesuai dengan hukum yang berlaku。 Namun tak cukup jika hanya menindak yang sudah ketahuan。 Alissa mendorong supaya otak dari perburuan ini segera ditangkap sehingga menghentikan dampak berkepanjangan。 -Rappler.com