靳南
2019-05-25 10:08:07
发布时间2015年7月4日上午9:21
2015年7月22日下午10:43更新

Imigran Rohingya dari马来西亚丹孟加拉国menanti proses identifikasi oleh polisi di Kuala Langsa,Aceh。 Foto oleh Zikri Maulana / EPA

Imigran Rohingya dari马来西亚丹孟加拉国menanti proses identifikasi oleh polisi di Kuala Langsa,Aceh。 Foto oleh Zikri Maulana / EPA

ACEH,印度尼西亚 - Hampir setiap hari,di kamp pengungsi di Langsa,Aceh,Muhammad Amin,sibuk memberikan pengumuman。 Pria berusia 35 tahun itu baru tinggal beberapa pekan di Aceh tapi dia siap untuk tinggal selamanya di sini。

“Saya bisa tinggal di sini atau di manapun。 Saya tidak tahu apakah Pemerintah Indonesia akan memberi kami pekerjaan atau tidak,“kata Amin。

“Saya bisa jadi nelayan atau tukang bangunan。 Saya bisa bekerja apa saja。 Itu di luar kuasa kami。 Jika pemerintah mau memberi kami pekerjaan itu terserah pemerintah。“

Amin adalah satu dari 400 pengungsi Rohingya yang diselamatkan oleh nelayan Aceh。 Awalnya dia mau bekerja di Malaysia。 Tapi karena kapalnya rusak,mereka terkatung-katung di lautan lebih dari dua bulan dan akhirnya terdampar di Aceh。

Ibrahim,salah satu nelayan Aceh yang ikut menyelamatkan para pengungsi itu mengaku siap jika harus punya tetangga baru。

“BOLEH。 Silakan tampung saja。 Mereka ditampung di sini kan tidak minta makan sama kami,“kata Ibrahim。

“杨pe pe pe men men men men men。 Mau diapakan,terserah。 Tak ada masalah。 Mereka sopan dan santun seperti orang Aceh。 Kalau saya sedang duduk,mereka menunduk。 Nggak jauh beda santunnya。 Karena dia muslim,kami muslim。 Jadi etikanya tidak jauh beda。 Hanya bahasa saja yang berbeda。“

Tapi tidak semua orang Aceh siap berbaur dengan orang Rohingya。 Muhammad berasal dari keluarga nelayan miskin。 Dia merasa tidak adil jika pengungsi diberi banyak bantuan termasuk uang secara langsung。

“Macam kami yang rakyat kecil ini。 Ada kerja,ada duit。 Ngga ada kerja, ngga ada duit。 Mana mungkin ada yang peduli,“kata Muhammad。 “Kalau ada musibah kayak gini baru ada orang peduli。 Iya kan? Kalau kita gini mana peduli orang?“

Pemerintah印度尼西亚menyatakan akan mengidentifikasi sumber kecemburuan antara pengungsi dan masyarakat setempat。 Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sudah mengunjungi tempat penampungan Rohingya di Langsa。

“Harus dibangun komunikasi secara harmoni supaya keserasian sosial tetap terjaga。 Apa yang mungkin diantisipasi jadi sumber kecemburuan masyarakat sekitar,ini memang harus dicari format yang menjadikan ini bagian penguatan keserasian sosial begitu。 Untuk 安置 kita akan cari格式。 Ini Perpres untuk pengungsi juga sedang disusun,“kata Khofifah。

Hasan,pengungsi Rohingya yang ingin sekolah lagi。 Foto dari亚洲电话

Hasan,pengungsi Rohingya yang ingin sekolah lagi。 Foto dari亚洲电话

Tapi masa depan bagi Ismatara和Hassan,yang keduanya berusia 17 tahun,adalah pergi ke Malaysia。

“Suami saya ada di Malaysia。 Saya kanden pada suami,saudara dan kakek saya yang tinggal di sana dan ingin tinggal bersama mereka,“kata Ismatara。

Sementara Hasan ingin melanjutkan sekolah agar dia punya kesempatan hidup lebih baik。

“Sampai di Malaysia saya akan sekolah。 Karena di Myanmar atau孟加拉国,kami tidak bisa sekolah,“kata Hasan。 “Jika saya ke Malaysia saya akan mengajukan beasiswa dan pindah ke negara lain。 Saya akan tinggal di sana dan mengubah hidup saya。 Saya akan pergi ke negara manapun yang memberikan saya kesempatan belajar lagi。“ - Rappler.com

Berita ini berasal dari ,节目电台mingguan dari 。